Tren gaya hidup liburan di kalangan anak muda terus berubah seiring perkembangan zaman. Jika sebelumnya banyak wisatawan muda mendambakan liburan mewah dengan fasilitas eksklusif, kini Generasi Z mulai beralih ke konsep liburan low budget yang lebih sederhana, hemat, namun tetap memberikan pengalaman berkesan. Fenomena ini tidak hanya terlihat di Indonesia, tetapi juga di berbagai negara lain di Asia dan Eropa.
Liburan Hemat Jadi Pilihan Gaya Hidup
Generasi Z yang lahir antara tahun 1997 hingga 2012 dikenal sebagai kelompok yang cerdas dalam mengelola keuangan, terbiasa dengan teknologi digital, dan lebih mementingkan pengalaman dibanding barang mewah. Dalam dunia pariwisata, hal itu tercermin dari meningkatnya minat mereka pada liburan low budget.
Menurut survei terbaru dari platform perjalanan online, lebih dari 65% wisatawan Gen Z di Asia Tenggara memilih perjalanan hemat biaya dengan memanfaatkan transportasi umum, penginapan murah, hingga kuliner lokal daripada menginap di hotel bintang lima atau restoran mahal.
“Bagi kami, yang terpenting bukan seberapa mahal liburan itu, tetapi seberapa banyak pengalaman yang bisa kami dapatkan,” ujar Nadia, mahasiswa asal Bandung yang gemar melakukan perjalanan backpacking ke berbagai kota di Indonesia.
Faktor yang Mendorong Pergeseran Tren
Ada beberapa alasan utama mengapa Generasi Z lebih memilih liburan low budget pada 2025:
-
Kesadaran Finansial
Gen Z cenderung berhati-hati dalam mengelola uang. Mereka lebih memilih menyimpan dana untuk investasi, pendidikan, atau pengalaman jangka panjang dibanding menghabiskan banyak uang hanya untuk sekali liburan. -
Krisis Ekonomi Global
Kondisi ekonomi dunia yang fluktuatif membuat anak muda lebih realistis. Harga tiket pesawat dan akomodasi yang terus meningkat membuat liburan hemat menjadi solusi terbaik. -
Mudahnya Akses Informasi
Platform digital seperti TikTok, YouTube, hingga blog perjalanan memberikan banyak tips liburan murah, mulai dari rekomendasi hostel, hidden gem wisata, hingga trik mencari tiket promo. -
Kepedulian terhadap Lingkungan
Banyak Gen Z yang mengaitkan konsep low budget travel dengan sustainable travel, seperti menggunakan transportasi umum, membawa botol minum sendiri, hingga memilih destinasi lokal untuk mengurangi jejak karbon.
Tren Backpacking dan Staycation
Salah satu bentuk liburan low budget yang paling populer adalah backpacking. Generasi Z rela bepergian hanya dengan tas punggung, memanfaatkan kereta api, bus, atau bahkan carpooling. Tujuannya bukan hanya hemat, tetapi juga bisa berinteraksi lebih dekat dengan warga lokal.
Selain itu, staycation juga semakin diminati. Dengan menginap di hotel budget atau guesthouse dalam kota, Gen Z bisa menikmati suasana liburan tanpa harus mengeluarkan biaya besar untuk perjalanan jauh. Tren ini terbukti meningkat di kota-kota besar seperti Jakarta, Yogyakarta, Bali, hingga Surabaya.
Digitalisasi Mendukung Liburan Hemat
Kemudahan teknologi digital berperan penting dalam mendukung gaya liburan low budget. Generasi Z terbiasa memanfaatkan aplikasi untuk mencari:
-
Tiket transportasi promo melalui aplikasi OTA (online travel agent).
-
Akomodasi murah seperti hostel, homestay, hingga Airbnb.
-
Informasi hidden gem dari media sosial atau komunitas backpacker.
-
Budget tracker untuk mengatur keuangan perjalanan.
“Dengan satu aplikasi, kami bisa membandingkan harga tiket, mencari penginapan, dan bahkan memesan makanan lokal dengan harga yang terjangkau. Itu yang bikin liburan low budget lebih mudah,” kata Raka, pekerja lepas asal Surabaya.
Dampak ke Industri Pariwisata
Fenomena peralihan ke liburan low budget tentu berdampak besar pada industri pariwisata. Banyak pelaku usaha kini menyesuaikan layanan untuk menarik wisatawan Gen Z.
-
Penginapan: Hostel modern dengan fasilitas co-working space dan desain Instagramable semakin diminati.
-
Transportasi: Penyedia transportasi darat menghadirkan paket hemat dan fleksibel untuk wisatawan muda.
-
Wisata Kuliner: Warung lokal dan street food jadi primadona, bahkan lebih populer dibanding restoran mewah.
-
Destinasi Wisata: Tempat wisata alternatif seperti desa wisata, camping ground, hingga wisata alam murah meriah mengalami lonjakan pengunjung.
Pemerintah pun mulai mengembangkan program pariwisata ramah kantong agar lebih banyak wisatawan domestik maupun mancanegara tertarik mengeksplorasi destinasi lokal.
Tantangan yang Dihadapi
Meski tren ini positif, liburan low budget juga memiliki tantangan. Salah satunya adalah keamanan dan kenyamanan. Tidak semua hostel atau transportasi murah memberikan standar layanan yang memadai. Selain itu, tingginya permintaan kadang membuat destinasi populer menjadi terlalu padat.
Namun, bagi Gen Z, tantangan itu bukan penghalang. Justru mereka menganggap pengalaman tak terduga di perjalanan sebagai bagian dari cerita yang berharga.
