Pada Kamis, 25 Desember 2025, suasana di Kota Lhokseumawe, Aceh sempat tegang ketika sekelompok masyarakat melakukan aksi dengan membawa bendera Gerakan Aceh Merdeka (GAM) di jalan nasional lintas Banda Aceh–Medan. Aksi ini dibubarkan oleh prajurit TNI AD dari Korem 011/Lilawangsa setelah situasi sempat memicu gangguan lalu lintas dan dugaan potensi ancaman keamanan.
1. Lokasi Aksi di Jalan Nasional
Pembubaran berlangsung di Simpang Kandang, Meunasah Mee, Kecamatan Muara Dua, Lhokseumawe. Aksi membawa atribut GAM dilakukan di tengah arus lalu lintas jalan nasional yang merupakan jalur utama di wilayah Aceh utara. Aksi tersebut memicu perhatian aparat keamanan karena dinilai bisa menimbulkan gangguan ketertiban umum.
Aparat TNI AD segera turun ke lokasi dipimpin oleh Danrem 011/Lilawangsa, Kolonel Inf Ali Imran. Tim berupaya mengendalikan situasi agar tidak meluas atau terjadi tindakan di luar hukum.
2. Pembubaran Aksi Secara Persuasif
Upaya pembubaran dilakukan dengan pendekatan persuasif oleh TNI AD. Massa diminta untuk menyerahkan spanduk dan atribut yang dibawa. Dalam proses dialog tersebut, massa akhirnya bersedia menyerahkan kain dan spanduk beratribut sehingga suasana tidak semakin memanas.
Pembubaran dilakukan tanpa kekerasan besar, namun aparat tetap waspada untuk mengantisipasi berbagai kemungkinan bila situasi berubah. Patroli dan kehadiran aparat militer di sekitar lokasi juga membantu menjaga kondusivitas setelah massa mulai membubarkan diri.
3. Penangkapan Pria Bersenjata
Saat pembubaran berlangsung, aparat menemukan seorang pria dari dalam kelompok itu yang membawa tas berisi senjata, yaitu sepucuk pistol serta senjata tajam rencong. Pria tersebut kemudian diamankan oleh personel TNI sebelum diserahkan kepada pihak kepolisian yang sudah berada di lokasi.
Menurut pernyataan komandan di lapangan, pria yang membawa senjata itu diduga merupakan provokator karena sempat mencoba mengarah massa untuk bertindak lebih agresif ketika aparat mendekat. Ketika didekati, pria tersebut mencoba melarikan diri namun berhasil ditahan oleh warga setempat dan kemudian oleh aparat militer.
4. Implikasi Keamanan & Ketertiban Umum
Aksi ini sempat mengganggu arus lalu lintas jalan nasional lintas Banda Aceh–Medan, namun tidak sampai terjadi bentrokan besar. Langkah cepat aparat militer membantu meredam potensi eskalasi dan mengembalikan kondisi aman.
Penyelidikan lanjutan terhadap pria yang membawa senjata kini ditangani oleh pihak kepolisian setempat guna mengetahui lebih jauh motif di balik aksi tersebut dan sumber senjata yang dibawa. Aparat kepolisian juga melakukan pemeriksaan identitas dan latar belakang pria tersebut untuk memastikan tindakan yang diambil sesuai hukum yang berlaku.
5. Respons Pemerintah Daerah & Aparat Terkait
Selain TNI AD, aparat kepolisian dan pemerintah daerah turut meningkatkan pengawasan di wilayah Aceh utara menjelang pergantian tahun dan musim libur panjang. Koordinasi antara TNI, Polri, dan pemerintah daerah dirasa penting untuk mencegah kejadian serupa maupun gangguan keamanan lainnya.
Pemerintah daerah juga mengimbau masyarakat untuk tetap menjaga ketertiban dan tidak mudah terprovokasi oleh aksi massa yang berpotensi meresahkan masyarakat umum, terutama di jalan nasional yang merupakan jalur vital ekonomi dan transportasi.
6. Potensi Tindak Lanjut Hukum
Pria yang tertangkap membawa pistol dan rencong kemungkinan akan dikenakan pasal pidana terkait kepemilikan senjata api ilegal serta provokasi dalam aksi massa yang berpotensi menimbulkan gangguan keamanan publik sesuai dengan peraturan hukum yang berlaku di Indonesia. Aparat penegak hukum diperkirakan akan mengevaluasi bukti, termasuk pemeriksaan alat bukti serta saksi mata untuk memperkuat penyidikan.
Jika terbukti melanggar hukum, pelaku dapat diproses di pengadilan sesuai dengan undang-undang tentang penanganan aksi massa ilegal dan kepemilikan senjata tanpa izin.
7. Kesimpulan
Aksi sekelompok masyarakat yang membawa bendera Gerakan Aceh Merdeka (GAM) di Lhokseumawe, Aceh, dibubarkan oleh prajurit TNI AD secara persuasif sehingga situasi dapat dikendalikan. Dalam pembubaran itu, seorang pria yang membawa pistol dan senjata tajam rencong berhasil diamankan. Aparat kini menangani kasus itu secara hukum untuk memastikan keamanan publik tetap terjaga.
Kejadian ini menjadi pengingat pentingnya koordinasi antara aparat militer, kepolisian, dan pemerintah daerah dalam menjaga ketertiban saat ada aksi di ruang publik, terutama di jalur transportasi vital yang berdampak pada stabilitas sosial dan ekonomi masyarakat.
